KB & TK Kreatif Komimo

Bukan Wajib…Tapi Ayo..

Tak seperti Kelompok Bermain (KB) dan Taman Kanak-kana (TK) lainnya, KB & TK Kreatif Komimo tampil percaya diri dengan menerapkan prinsip-prinsip hasil penelitian pendirinya, yang tak lain adalah Seto Mulyadi yang akrab disapa Kak Seto ini, tentang kreatifitas anak yang diterjemahkan dalam bentuk kegiatan anak. “Kak Seto paling anti jika pendidikan dikatakan sebagai kewajiban bagi anak. Karena menurutnya pendidikan itu merupakan hak anak. Sebab itulah, dalam mentransfer ilmu pada anak, ketika mereka mengenyam pendidikan di sekolah Komimo, kami tidak mengedepankan kedisplinan dan kata-kata yang lebih tertuju pada makna ‘harus’.Justru sedapat mungkin kami menghilangkan suasana wajib, yang kami ganti dengan kata-kata mengajak, yakni ayo. Sehingga mereka merasa senang dalam kegiatan belajar mengajar, dan bukannya merasa terpaksa.Makanya kita lebih banyak memberikan contoh kepada murid ketimbang kita menyuruh mereka. Karena di usia KB dan TK anak-anak cenderung lebih senang mencontoh, ketimbang disuruh dengan keadaan kita sebagai guru dan mereka sebagai murid. Kalau kita menggunakan kata-kata ayo, maka anak-anak pun akan merasa bahwa para guru adalah juga teman mereka dan ini membantu proses penyerapan pelajaran menjadi lebih efektif dan lebih cepat”, papar Fifin Anetta selaku Kepala Sekolah Komimo Cibubur.Bahkan untuk menyeragamkan warna sistem pengajaran di seluruh Komimo, Kak Seto tak segan-segan memberikan training secara mendetail. “Dulu pada tahun 1992 ketika Komimo pertama kali dibuka, Kak Seto memberikan training langsung pada kita. Bagaimana kita harus berbicara pada anak dari kata-kata, gestur hingga ekspresi, bahwa ketika berbicara kita harus berada di posisi yang sejajar dengan anak dan hal-hal mendetail lainnya”, tambah Fifin.Dengan menjadi teman bagi anak didik, diharapkan mereka akan lebih mudah beradaptasi di sekolah dan bahkan merasa terus bersemangat setiap mereka akan berangkat sekolah. “Sempat ada anak yang dipindahkan kemari karena menurut orang tuanya mereka tidak bisa beradaptasi dan terus menangis di sekolahnya yang lama. Alhamdulillah disini, mereka justru merasa senang dan bahkan bisa bersekolah tanpa harus ditemani oleh sang bunda maupun pengasuhnya”, tutur wanita yang enerjik ini.Kelas di Komimo pun terbagi menjadi beberapa kategori. Yakni KB Kreatif Kecil untuk anak usia 2-3 tahun. KB Kreatif Besar untuk anak usia 3-4 tahun, TK A untuk anak usia 4-5 tahun dan TK B untuk anak usia 5-6 tahun. Tiap kategori umumnya terdiri dari 2 kelas dengan maksimum jumlah murid 12 anak. Hal ini dilakukan tak lain untuk menjaga kualitas hasil anak didiknya. Dengan metode bermain sambil belajar dan belajar sambil bermain, Komimo mengembangkan kepekaan sosial dan kemandirian, pengendalian emosional, kemampuan berbahasa, kognitif, kreatifitas dan aktifitas motorik anak. Untuk menunjang sistem pembelajaran pun Komimo menyediakan beragam fasilitas dan prasarana. Mulai dari playground yang dilengkapi dengan pasir putih khusus didatangkan dari Lampung, mini library dan lain sebagainya.Di akhir wawancara Fifin pun mengutarakan pentingnya para guru dan staff untuk menguasai bahasa anak. “Menurut Kak Seto, bahkan bayi pun punya bahasa sendiri, dan tugas kitalah yang harus mengerti bahasa mereka. Bagaimana kita menyiasati caranya agar sembari bermain, anak-anak bisa berhitung, membaca, menulis dan materi-materi pelajaran lainnya. Kita meramu permainan dengan sedemikian rupa, sehingga anak didik belajar tanpa unsur paksaan. Contoh saja, jika di sekolah lain ketika bel berbunyi tandanya anak didik harus masuk kelas, kalau di Komimo itu tandanya waktu untuk para guru ikut bermain bersama murid. Dan permainannya pun kita atur sedemikian rupa sehingga berganti setiap waktu jadi murid tidak bosan. Mulai dari permainan tradisional, science, sharing time, story telling dan lain sebagainya”.Untuk kisaran biaya, ketika pendaftaran orang tua hanya perlu membayar 1 kali yang berkisar di harga Rp 6 jutaan dan itu sudah termasuk biaya kegiatan anak selama 1 tahun, seragam, buku pelajaran, alat dan bahan untuk kegiatan kreatifitas anak. Sedangkan di bulan berikutnya orang tua hanya perlu membayar SPP saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: