Sekolah Global Mandiri

Jangan Sampai Anak Over atau Less Stimulus”

Dengan mengkombinasikan kurikulum yang disusun oleh Dirjen Pendidikan Nasional (Diknas) dengan kurikulum yang diadaptasi dari Amerika yang biasa disebut Developmentary Appropriate Practises for Early Chilhood, TK di Sekolah Global Mandiri (SGM) memang tak bisa dikatakan sama. Saat sekolah lain berlomba memberikan materi pelajaran yang harus dikuasai oleh anak usia TK, SGM justru tidak mau ngoyo dalam memasukkan materi pelajaran dalam otak anak. Karena sekolah yang berdiri kokoh 2 gedung ini, justru melakukan pendekatan yang disesuaikan dengan umur dan tingkat pendidikan anak.Ketika anak usia TK kerap dibebankan target skills, yakni harus bisa membaca dan menulis, sekolah kadang menjadi terlalu memaksakan materi pelajaran pada anak dalam porsi yang berlebihan. “Sebetulnya bukan berarti ketika lulus dari nursery atau TK anak harus bisa membaca dan menulis. Tapi kedua skills ini hanya sebagian dari 5 aspek yang akan kami kembangkan di SGM. Dan orang tua tidak bisa hanya menilai dari sebelah mata saja. Karena antara satu aspek dengan aspek yang lain saling memiliki keterkaitan”, tutur Farida Wulandari, S.S selaku Principal Pre-Primary Sekolah Global Mandiri. Lima aspek perkembangan yang dimaksudkan oleh Farida adalah perkembangan emosional, perkembangan sosial, perkembangan bahasa, perkembangan cognitif dan motorskills. “Kemampuan membaca dan menulis itu termasuk dalam aspek perkembangan bahasa. Namun adapula point-point yang lain, seperti how to communicate, how to read symbol, dan masih banyak lagi. Dan di SGM, siswa dibimbing untuk mengembangkan 5 aspek perkembangan tersebut beserta dengan point-point yang terkandung di dalamnya”, tambah Farida. Berkomentar tentang kurikulum yang diterapkan di sekolah yang telah menyabet banyak juara dalam berbagai kompetisi dan kerap dijadikan lokasi syuting bagi sinetron yang tayang di sejumlah stasiun televisi swasta ini, Farida menjelaskan dengan bijaksana. “Dimana pun itu, kurikulum sesungguhnya bersifat sama. Yang membedakan adalah pendekatan penerapan kurikulum tersebut pada murid. Di SGM untuk menerapkan kurikulum tersebut kami melakukan pendekatan active learning, yang dilakukan dengan learning by playing. Tapi jangan salah, makna dari kata permainan disini tentu berbeda dengan pengertian bermain yang kita tahu sebelumnya. SGM pun sangat memperhatikan jenis permainan-permainan bagaimana yang bisa memberikan atmosfir bermain pada anak, tetapi kegiatannya belajar. Karena itulah ketika dalam proses pembelajaran, kami memberikan keleluasaan pada mereka untuk menjadi orang yang bermain dalam aktifitas belajar tersebut. Sesuai dengan lesson plan kita, peran guru disini hanya sebagai fasilitator yang membuka pikiran anak dan membimbing mereka bersandar pada kurikulum yang ada, sedangkan prosentasenya akan lebih terfokus pada aktifitas anak untuk melakukan instruksi yang diberikan oleh guru. Setelah itu barulah dilakukan yang namanya proses reviewing. Yaitu proses penarikan kesimpulan oleh guru dan murid, tentang apa yang baru saja mereka pelajari”, paparnya lagi.Fasilitas penunjang kegiatan belajar mengajar pun tersedia lengkap. Mulai dari library dan ruang komputer khusus TK, learning materials, playground, music studio yang juga dilengkapi dengan instrumen musik yang sangat beragam jenisnya, dari yang tradisional sampai yang modern, sport hall, swimming pool hingga arena outbond.“Kami memiliki tema yang akan berganti setiap termnya. Dan semua aktifitas kegiatan KBM akan disesuaikan dengan tema yang terpilih. Di 6 bulan pertama, kami akan mengadakan cross country di lingkungan sekitar SGM. Sedangkan di 6 bulan berikutnya kami akan beroutbond ria. Semua ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian anak terhadap lingkungan di sekitarnya serta melatihnya untuk peduli terhadap sesamanya. Tetapi yang penting, semuanya tetap berpegang pada prinsip Developmentary Appropriate Practises for Early Chilhood. Dimana semua materi yang kami berikan disesuaikan dengan umur dan tingkat pendidikan anak. Karena apabila anak mendapatkan over/less stimulus, mereka justru akan merasa stress. Sebab itulah sedapat mungkin kami bangun suasana yang menyenangkan di sekolah, sehingga ketika orang tua menyerahkan anaknya pada kami, akan berlangsung lancar dan menyenangkan bagi si anak”, ungkap Farida mengakhiri wawancara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: