Pilih Sport Car atau Family Car

#fullpost {display:none;}
Tanpa terasa, 5 tahun sudah lamanya, Rika dan Anto membina biduk rumah tangga. Hingga saat ini mereka telah dikaruniai 3 orang anak. Faisal putra pertama mereka berumur 12 tahun, Adisti putri keduanya berusia 10 tahun sedangkan si bungsu bernama Andri berumur 7 tahun baru saja duduk di kelas 1 SD. Sepanjang 5 tahun, Rika dan Anto menghabiskan waktu mereka dengan cinta dan kasih sayang yang seolah takkan pudar ditempa masa.

Tetapi dengan berjalannya waktu, Rika yang tadinya senang mempercantik dirinya untuk kebahagiaan Anto dan rajin memberikan pelayanan memuaskan di bawah selimut hangat, kini mulai surut.Kesibukan Rika mengurus 3 orang buah hati mereka menjadi salah satu penyebabnya. Tak hanya itu, Anto pun mulai jengah melihat penampilan Rika yang kerap kusut saat menyambutnya pulang dari kerja. Rasa bosan pun menggelayut di benak Anto. Ketika perasaan itu makin berkecamuk di benaknya, seorang wanita berparas rupawan, dengan body yang nyaris sempurna bak gitar Spanyol, melewati pintu ruangan kerjanya. Meski si wanita hanya melenggak santai, namun Anto yang sudah lama tidak terpuaskan nafsunya, memandang wanita yang bernama Shinta ini dari sudut lain. Tak bisa dielakkan, perselingkuhan pun terjadi. Anto menjadi pribadi yang tak lagi cinta rumah. Ia selalu pulang malam dan tak pernah menghabiskan masa liburan di rumah. Menghabiskan waktu bersenang-senang, membuat hidup Anto menjadi lebih bersemangat. Jantung Anto seolah berdetak kembali (meskipun sebelumnya pun tak pernah berhenti berdetak), kala melihat moleknya body Shinta setiap mengenakan gaun malam ketika mereka menghabiskan malam bersama. Adrenalin ayah dari Faisal, Adisti dan Andri pun seolah makin terpacu, karena Shinta mengajaknya untuk menghabiskan weekend kali ini ke luar negeri. Maklumlah Shinta merupakan salah satu putri dari Bos Anto di kantor.Insting Rika pun mulai memperingatkannya bahwa sang suami mulai berubah. Sosok suami tercinta yang dulu mengajaknya membina biduk rumah tangga, samar-samar berubah menjadi lelaki asing yang tak dikenalnya. Rika sungguh sedih, ia merasa sendirian menghadapi kerasnya hidup dan anak-anak yang kian sering bertengkar satu sama lain karena saling menyalahkan mengapa sang ayah menjadi jarang pulang ke rumah. Hanya Andri yang mengerti Rika. Ia sering mengusap air mata Rika dan memeluknya dari belakang kala Rika sedang menangis. Meski umur Andri masih 7 tahun, namun tampaknya ialah yang paling pengertian dibanding kedua kakaknya. Akhirnya, hari yang ditakutkan Rika pun datang. Anto mengajukan cerai. Berderai air mata, Rika menuju ke kamar dan menangis sesunggukan. Suatu malam, Andri memergoki sang ayah yang kelihatan kelelahan, baru saja pulang. “Ayah capek ya?, Mau Andri bikinin kopi nggak?. Tadi kita pada bikin kue, Ayah mau coba nggak?”. Dengan senyum hambar di bibirnya, sang ayah pun berkata “Andri, mungkin Ayah nggak akan tinggal bersama kalian lagi. Ayah akan meninggalkan kalian bersama mama ya…Tapi Andri nanti sesekali boleh main bersama Ayah di rumah Ayah yang baru..”Tanpa ekspresi, Andri tiba-tiba malah justru menceritakan “Yah..Kata orang naik mobil sport itu keren banget ya Yah. Serruuu…Kalau kita naik mobil sport, semua orang yang melihat pasti kagum ama kita ya Yah… Tapi naik mobil sport itu cuma bisa buat berdua doang ya Yah?? Berarti kalau Andri, mas Faisal dan mbak Adisti nggak bisa ikut ya Yah?? Tapi kalau menurut aku, lebih enak Toyoto Fortuner lho Yah… Selain seluruh keluarga bisa ikut, penampilan kita tetap keren dilihat orang. Lagipula ya Yah kalau naik mobil sport itu, cuma enak di awalnya aja tau Yah…!!! Nggak bisa diajak petualang yang kotor-kotor, abis kan sayang kalau body mobilnya kotor. Terus kalau Ayah lagi ‘BT’ tiba-tiba di jalan ada masalah, Ayah nggak punya kita, keluarga Ayah yang bakal bantuin Ayah kan Yah. Padahal kan kata Ayah, keluarga itu adalah segala-galanya. Jika Ayah hanya pergi berdua tanpa keluarga, berarti….”, ujar Andri dengan wajah polos.“Andri sudah waktunya tidur. Yuk Ayah antar ke tempat tidur”, demikian Anto berkata sembari menidurkan buah hatinya. Cerita Andri tadi, jelas membuat Anto terjaga sepanjang malam. Perumpaan yang diceritakan oleh Andri seolah mendeskripsikan keadaan yang sedang melanda Anto dan Rika. Mungkin Andri tidak menyatakan keinginannya secara eksplisit, tetapi, Anto bisa menangkap maksudnya.“Mengapa aku tidak bisa bersyukur pada Tuhan yang telah memanjakan aku dengan memberikan keluarga yang begitu mencintaiku. Dan justru mencari ranjau-ranjau lain untuk aku berpetualang”. Anto betul-betul tidak bisa tidur. Tetapi kala fajar menyapa dari jendela ruang keluarga, Anto siap dengan sebuah keputusan. ‘Tok…Tok’, “Ma…Tolong buka pintunya, aku mau bicara”, “Tidak ada yang perlu dibicarakan, lakukan saja apa yang kamu inginkan lalu pergi tinggalkan aku dan anak-anak. Biarkan luka kami sembuh dulu, baru kamu boleh kembali menemui anak-anak”. Anto spontan memeluk Rika dengan erat sambil berbisik mesra, “Maafkan aku…Aku ingin liburan bersama kamu dan anak-anak…”



[+/-] Selengkapnya…



[+/-] Ringkasan saja…

checkFull(“post-” + “links”)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: