FPKB Melanjutkan Langkah Perjuangan Ke Gubernur Jawa Barat

Perjuangan FPKB (Forum Paguyuban Kota Wisata Bersatu) masih terus berlangsung. Bahkan, tanggal 4 Desember 2007 lalu, pengurus FPKB beserta 52 warga Kota Wisata lainnya yang berasal dari cluster Madrid, Denhaag, Monaco, Montreal, Toronto dan Amerika berangkat ke kota kembang Bandung, untuk memenuhi undangan dari Gubernur Jawa Barat yang disampaikan via fax pada tanggal 29 Nopember 2007. Cluster Madrid, Denhaag, Monaco, Montreal, Toronto dan Amerika inilah yang kemungkinan besar terkena imbas dari pembangunan jalur JORR II Cimanggis Cibitung yang dikatakan akan melewati perumahan Kota Wisata sepanjang 2,5 km ini.
Keesokan harinya, FPKB mengadakan rapat internal dengan para pengurus forum. Berturut-turut setelahnya, FPKB pun menyelenggarakan pertemuan dengan warga Madrid, Denhaag dan Monaco, serta Montreal, Toronto dan Amerika pada 1 dan 2 Desember 2007. Dari hasil pertemuan tersebut, tercapailah sebuah kesepakatan bahwa warga setuju untuk ikut ke Bandung memenuhi undangan yang dimaksud, dengan dana swadaya menyewa bus untuk warga Madrid, Denhaag, Monaco, Montreal dan Toronto, sedangkan warga Amerika mengusahakan penyewaan sendiri.
Setelah memperoleh surat ijin keramaian dari POLDA, berangkatlah FPKB beserta 52 warga Kota Wisata lainnya dengan menumpang 2 bus dan 2 warga membawa mobil pribadi, pada tanggal 4 Desember 2007 pukul 09.30. Namun sebelumnya warga telah terlebih dahulu menandatangani isi surat pernyataan yang akan disampaikan kepada Gubernur Jawa Barat. Warga yang tiba pukul 12.30 di Bandung pun diijinkan masuk ke Gedung Sate pada pukul 13.30. Tak menunggu lama, warga membuka aksi damai ini dengan membentangkan spanduk dan meneriakkan orasi-orasi.
Ketika wartawan mewawancarai Ketua Forum, yakni Arief dan Ronni, Suparno dan Ketua Forum, Johan memasuki ruang pertemuan. Di dalam telah hadir Jopari, warga cluster Madrid yang mengenal pejabat di Pemda Jabar. Selanjutnya beberapa lama pertemuan berlangsung, masuk pula Nangkulo dan Iman sebagai perwakilan dari warga Denhaag. Rapat kali ini pun dihadiri oleh Kepala BPN Kabupaten Bogor, Dinas Kabupaten Bekasi dan Kota Bekasi, Camat Gunung Putri, Bina Marga dan BPJT serta developer Kota Wisata, Haris dan Deni.
Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari Johan, selaku salah satu pengurus FPKB, pertemuan kali ini bertujuan agar Gubernur yang saat itu diwakili oleh SETDA Prop, L. Laksamana, mendengarkan penjelasan dari Bina Marga dan BPJT tentang rencana pembangunan jalan tol.
Dan sebelum memutuskan ya atau tidak atas usulan dari Bina Marga dan BPJT, maka Gubernur mengumpulkan pendapat dari aparatnya di Kabubupaten Bogor, Bekasi dan Kota Bekasi, serta warga masyarakat yang terkena rencana yang diwakili warga Kota Wisata.
Dalam diskusi yang terjadi, SETDA mempersilakan Bina Marga dan BPJT mempertimbangkan relokasi jalan ke atas Transyogie, dan jika tetap terpaksa di Kota Wisata, maka akan dikaji pembuatan terowongan. Hal ini tidak dapat dipaksakan menjadi kesimpulan karena Gubernur atau SETDA tidak dalam kapasitasnya mengajukan penetapan lokasi selain dari yang diusulkan oleh BPJT dan Bina Marga.
Dari rapat tersebut, bisa ditarik kesimpulan bahwa rapat kali ini bersifat mendengarkan semua rencana dan warga telah menyampaikan keberatannya yang disertai dengan berbagai alasan pendukung. Berbekal itu, maka SETDA meminta agar BPJT dan Bina Marga melakukan penyesuaian rencana yang artinya usulan BPJT dan Bina Marga yang diajukan pada tanggal 4 Desember 2007 ditolak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: